A. Psikologi terbalik
Psikologi terbalik adalah
seni untuk menarik perhatian orang dengan rangsangan yang berlawanan, sehingga
orang lain melakukan hal yang ia inginkan tanpa disadari orang tersebut.
Psikologi terbalik ini mengacu pada mendapatkan orang lain untuk melakukan atau
mengatakan sesuatu dengan mengatakan kebalikan dari apa yang diinginkan.
Mungkin sebagian dari masyarakat
belum begitu memahami dengan istilah psikologi terbalik dalam berbagai konteks.
Namun sebenarnya disadari atau tidak banyak kondisi dalam kehidupan sehari-hari
yang menunjukkan pemberlakuan teori psikologi terbalik.
Misalkan saja ketika kita kecil
dulu, saat kita bermain terlalu lama biasanya akan muncul teguran dari orang
dewasa di sekitar kita dengan komentar: “Asyik ya main, lebih enak deh kalau
pulangnya lebih malam lagi.” Atau ketika kita terlambat masuk kelas terkadang
muncul komentar: “Kok jam segini sudah datang nanti saja kalau kelas sudah
bubar.” Lalu apakah pernyataan tersebut akan benar-benar dilaksanakan? Pada
kenyataannya, itu adalah sebuah sindiran tajam yang berarti harus
melakukan yang sebaliknya dari ucapan tersebut.
A.1 Penerapan
psikologi Terbalik
1. Kenali karakter orang yang
akan dikenakan Psikologi Terbalik
Biasanya diterapkan buat beberapa
anak yang rewel, pemberontak dan tidak pernah ikuti aturan.
Ini juga dengan catatan karakter anak tersebut punya sisi sensitif dan peka,
sisi itulah yang dihantam dengan Psikologi Terbalik. Lain hal bila
memang anak pemberontak tersebut cuek dan tidak peka, berbahaya bila diterapkan
cara ini.
2. Lakukan Psikologi Terbalik
ketika kondisi emosi benar-benar memuncak
Orang ketika emosi sangat mudah
untuk diterapkan Psikologi Terbalik, saat itu juga. Misalnya orang yang marah
sama seseorang bahkan dalam kemarahannya itu ia bilang akan membunuh, saat itu
juga berikan alat-alat yang bisa membunuh ke orang yang tengah emosi tersebut.
Dijamin ia akan berhenti dari niatnya dan berpikir panjang. Ini pun dengan
catatan punya kepekaan, emosi dan sisi sensitif. Lain hal bila memang
tidak mempunyai sisi itu dan yang punya cuma kenekatan, berantakan semua tujuan
Psikologi Terbalik ini.
3. Ucapkan dengan nada datar
tanpa ekspresi
Penerapan untuk contoh di nomer 2
tadi, pengucapannya dengan nada yang datar dan bukan dengan cara yang ikutan
emosi. Ingat lagi bahwa Psikologi Terbalik ini bentukan manipulasi pesan
untuk tujuan tertentu dengan cara yang berseberangan.
3. Jangan cuma menggertak,
tapi siapkan apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Psikologi Terbalik hanya bisa
dilakukan dengan cara yang singkat dan tidak bisa lama, ketika kesadarannya
mulai pulih, alihkan perhatiannya dengan resiko yang akan timbul bila hal
tersebut dilakukan. Contoh cerita saya tentang orang yang mau bunuh diri itu
tadi, ketika dia sudah mulai masuk ke jendela, jangan di diamkan, harus ada di
sampingnya dan memberikan kenyataan-kenyataan yang ada bila ia benar-benar mau
bunuh diri. Intinya, Psikologi Terbalik ini tidak cuma sekedar gertak sambal,
tapi harus ada tindakan lanjutnya.
Beberapa
contoh penggunaan psikologi terbalik
*Teori psikologi ini berasal dari
abad kuno Indonesia, dan dalam masyarakat dulu lebih dikenal dengan sebutan gertak
sambal yang artinya sebenarnya kita hanya menggertak. Jadi seseorang
sebenarnya tidak mempunyai kekuatan atau kekuasaan yang dia miliki tetapi dia
hanya membual. Semakin yakin dan percaya tindakan anda, lawan bicara semakin
ragu akan kemampuan nya sendiri dan tidak berani mengambil risiko untuk melawan
kita.
Dalam menjalani trik ini, anda
harus bisa memasang tampang yakin dan percaya diri, disertai dengan
berbicara dengan suara lantang dan yang pasti penuh keyakinan.
Contoh Skenario :
Polisi: "Selamat pagi, ibu telah melanggar pasal sekian karena
sekian-sekian"
Anda: "ya sudah! Ya sudah! Tilang saja saya sekarang! Ayo cepat!
Tilang saja!"
Polisi: "Hmmm ? maaf bu, memangnya ibu..siapa ya?"
Anda: "ngapain tanya-tanya siapa aku! Kalau kau mau tilang, ya
tilanglah sana!"
Polisi: "Maaf bu, ibu kenal siapa?"
Anda: "memangnya kalau aku kenal siapa-siapa kenapa? Hah? Mau kau
tilang lebih besar lagi? Hah?"
Polisi: "Engga bu, lain kali hati-hati ya"
Sebenarnya trik diatas merupakan
teknik yang dalam ilmu psikologi disebut dengan Reverse Psychology,
dimana seseorang melakukan persuasi dalam mengarahkan lawan bicara
dengan melakukan hal yang justru tidak diinginkan oleh lawan bicara. Menyuruh
pak polisi untuk menilang dengan lantang akan memicu reaksi tersendiri dalam
diri Pak Polisi, yaitu respon negatif saat menanggapi sebuah persuasi, sehingga
bertindak justru kebalikan persuasi yang diberikan (melepaskan dan tidak
menilang).
Menggunakan pembalikan logika
sesuai keinginan anda, anda harus mengatakannya secara halus. Misalnya anda
ingin teman sekamar anda mencuci piring karena saat ini adalah gilirannya.
Berkatalah dengan halus seperti ini: "Hei, apa kamu merasa keberatan
mencuci piring? Sekarangkan giliranmu?" Kemudian dalam contoh berikut ini
kita asumsikan teman sekamar anda pemalas dan pendekatan yang halus tidak
berhasil. Jadi apa yang akan agan lakukan? Cobalah seperti ini:
"Hei, aku sudah memutuskan
kalo aku tidak ingin mencuci piring lagi dan aku hanya akan membeli
barang-barang sekali pakai saja. kamu keberatan tidak? Kalo kamu mau nitip
sesuatu, aku bisa membelikannya untukmu, namun tentu saja dengan uangmu
sendiri."
Kata diatas adalah alternatif
terburuk agar anda tidak mencuci piring dengan tanpa disalahkan. Daripada anda
sibuk saling tuduh giliran siapa yg mencuci piring, kemudian tinggal teman
sekamar andalah yg akan berpikir untuk mencari alternatif yg baik. Begitulah
bagaimana psikologi terbalik bisa efektif, selama anda mengucapkannya dengan
tulus.
Bagi mereka yang setingkat lebih
dewasa seperti remaja, dimana setiap remaja sudah memiliki alter ego dan
keinginan untuk diakui, ia cenderung akan melawan perintah, sehingga seringkali
apa yang diucapkan orang tua atau guru justru akan direspon sebaliknya,
himbauan dan larangan biasanya diabaikan sebagai ajang pembuktian diri.
Sehingga bagi seorang yang memiliki pengetahuan psikologi terbalik, ia dapat
menciptakan suasana seolah berkebalikan dengan apa yang ia inginkan untuk
mendapatkan respon dari orang-orang disekitarnya.
Psikologi terbalik juga bisa
digunakan untuk menyerang lawan jenis agar jatuh hati padanya. Contoh yang
paling umum adalah mengkondisikan kondisi psikologis targetnya justru membencinya,
sehingga secara tidak langsung memori target akan penuh dengan gambaran
kebencian terhadap subyek, dan pada kondisi tertentu ia akan merasakan
kecanduan untuk selalu memikirkan subyek, disini perlahan secara tidak langsung
algoritma target akan membandingkan perlakuan yang ia dapatkan dan kamuflase
stigma yang terbentuk di pikirannya, dan kemudian ia akan mulai dihinggapi
perasaan bersalah, mulai menerima dan akhirnya jatuh dalam perangkap.
Ada orang yang tinggal di sebuah
apartemen di lantai tertinggi, putus asa, hilang semua semangat menjalani
hidup. Ia melangkah keluar jendela, duduk di pinggirnya, siap melompat untuk
menghabisi nyawa yang hanya satu. Di bawah, kerumunan orang melihat
tindakannya, beberapa orang coba membujuk untuk tidak melakukan tindakan bodoh
itu.
"Sayangi hidupmu... Jangan
bunuh diri! Tindakan dosa menghilangkan nyawa pemberian Tuhan! Ayolah, jangan
bunuh diri!" Teriak beberapa orang untuk mencoba menghentikan usaha bunuh
diri orang itu. Tapi ketika pikiran sehat dikalahkan oleh keputusasaan teramat
sangat, orang itu menangis dan malah bertambah yakin untuk melakukannya.
Teriakan orang-orang tadi malah membentuk keyakinannya untuk melakukan itu.
Sampai ada orang yang mencoba
membubarkan kerumunan di bawah, mengatakan pada mereka bahwa biarkan saja orang
yang di atas ingin bunuh diri dan jangan pedulikan. Pada orang di atas yang
sedang ingin menghabisi nyawanya, ia berteriak :
"Kamu ingin bunuh diri?!
Kenapa ragu? Ayo! Melompatlat agar cepat hilang nyawamu! Ketika kamu mati, tak
ada yang berubah dengan kehidupan ini, dengan atau tanpamu Bumi tetap berputar,
matahari tetap bersinar, kehidupan akan berjalan terus! Ayo! Melompatlah agar
kami semua bisa mentertawakan kebodohanmu!"
Dan orang di atas tadi tangisnya
makin keras, melangkah masuk ke dalam jendela apartemennya. Ia urung melompat
sebab kata-kata tadi.
Disarankan agar psikologi
terbalik ini tidak digunakan secara berlebihan kepada seseorang atau
terus menerus. Atau dapat pula digunakan sebagai alternatif akhir dalam
proses konseling. Karena di khawatirkan seseorang yang sering mendapatkan
metode ini akan merasa dijatuhkan harga diri seseorang dan tidak dapat
mempercayai kita lagi. oleh sebab itu seperti perkataan saya yang diatas kita
harus mengenali karakter orang tersebut.
Dikutip dari : yaman.heck.in

Tidak ada komentar:
Posting Komentar